Beranda |  Profil |  Berita |  DPD |  Artikel |  Opini |  Liputan Media |  Gafatar TV |  Dokumentasi |  Press Release |  Kontak 
PENGURUS DPP
 
  •   
    Ketua Umum
    Mahful M Tumanurung
      
    Wakil Ketua Umum
    Wahyu Sandjaya
  •   
    Sekretaris Jenderal
    Berny Satria
      
    Bendahara Umum
    Muchtar Asni
  •   
    Ketua Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kepengurusan
    Dandy Kusuma
      
    Ketua Bidang Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
    Jusuf Damardjati
  •   
    Ketua Bidang Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak
    Dwi Ratna K
      
    Ketua Bidang Kesehatan
    Munandar
  •   
    Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan
    Iman Sumiarsa
      
    Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan Organisasi
    Swastanto
  •   
    Ketua Bidang Hukum dan HAM
    M.Tubagus Abduh
      
    Ketua Bidang Informasi, Komunikasi dan Hubungan Internasional
    M.Yusuf Daruwijaya
  •   
    Wakil Sekretaris Jenderal 1
    Kurniadhi Wibowo
      
    Wakil Sekretaris Jenderal 2
    M.Yusuf Daruwijaya
  •   
    Kepala Sekretariat Jenderal
    Zaenal Arifin
     
  •   
    Wakil Bendahara Umum 1
    M Ruchyat
      
    Wakil Bendahara Umum 2
    Herdian Widyo S
  •   
    Badan Penelitian dan Pengkajian Nusantara
    Heru Mulyantoro
      
    Badan Usaha Fajar Duta Mandiri
    Endang Supriyatna
 
AKSI GAFATAR
 


2012

2013
OPINI
 
BERITA
 
JEJARING SOSIAL
 
 
BERITA SOSIAL GAFATAR
 

Aksi Sosial GAFATAR Lampung Bercitarasa di Bali

23 November 2012 05:10:43


Lampung Timur, Minggu (GAFATAR-Lampung).  Provinsi Lampung memang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan provinsi lainnya di Pulau Sumatera.  Provinsi yang berpenduduk 7.608.405 jiwa (sensus 2010) ini berada di ujung timur Pulau Sumatera dan ditempati oleh berbagai suku, selain suku asli Lampung sendiri. Diantaranya banyak penduduk/suku yang berasal dari Jawa, Bali, Lombok, Sumsel, Minang, Batak, Sunda, Mdura, Bugis, Banten, Aceh, Cina, dan sebagainya.

 

Keunikan lainnya, di Provinsi Lampung banyak nama daerah, baik itu kecamatan atau desa yang dinamai seperti nama daerah di Pulau Jawa, seperti Bantul, Wates, Wonosri, Sidomulyo, Sukadana, dan sebagainya. Hal ini tidak lepas dari sejarah Lampung yang sejak zaman dahulu (Belanda –red) dijadikan sebagai tujuan transmigrasi besar-besaran dari tanah Jawa, Bali, Sunda, dan sebagainya.

 

Di beberapa daerah di Lampung, kita juga bisa menemukan sebuah desa yang seluruh penduduknya orang Bali. Di tempat tersebut juga biasanya terdapat sebuah pura besar tempat mereka melakukan kegiatan agama, sama persis seperti keadaan di bali. Bahkan rumah-rumah penduduknya pun kental dengan nuansa Bali.

 

Seperti kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) Lampung hari Minggu (18/11) lalu di Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur. Ada yang unik dari aksi bakti sosial tersebut, yaitu meskipun dilakukan di pelosok Lampung namun suasananya sangat kental sekali dengan nuansa Bali. Kecamatan Pasir Sakti memang mayoritas berpenduduk etnis Bali dan Jawa transmigran, dengan jarak kurang lebih 100 Km dari Kota Bandar Lampung.

 

Bakti sosial membangun gedung serba guna ‘Dharma Nusantara’ di Pasir Sakti ini merupakan kali kedua. Pada waktu itu GAFATAR mengerahkan sekitar 50 orang para punggawanya yang berasal dari berbagai penjuru Lampung. Proses pembangunan gedung serba guna ini masih pada tahap pembuatan pondasi, hal ini terkendala pada kurangnya sumber daya manusia (buruh –red) yang mau bekerja membangun gedung yang sedianya diperuntukan sebagai pusat kegiatan masyarakat nantinya. Hal ini berkebalikan dengan sumber daya alam yang sangat melimpah, sepeti batu alam dan pasir yang bisa didapat secara “gratis”.

 

Peduli dengan hal ini, Ketua DPD GAFATAR Lampung, Willy Meisma, dalam sambutannya sebelum kegiatan Baksos dimulai, mengatakan, ”kami (GAFATAR –red) bekerja tidak mengharapkan imbalan apa-apa, murni tulus dan ikhlas. Kami berjanji siap membantu membangun Gedung Serba Guna ini sampai selesai, jika diperlukan.”

 

Kegiatan baksos ini dimulai pagi hari pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 12.00 WIB karena cuaca hujan dan tidak memungkinkan untuk melakukan aktifitas pengecoran pondasi. Semangat dan kebersamaan para punggawa GAFATAR dalam bekerja ternyata menggugah para pemuda dan pemudi sekitar untuk turut serta bergotong royong membangun gedung. Proses pengecoran dan pembuatan pondasi pun semakin cepat, pekerjaan yang sedianya bisa terselesaikan seminggu dengan SDM (buruh –red) yang ada, dengan adanya gotong royong tersebut bisa terselesaikan dalam beberapa jam saja.

 

Turut hadir dan bekerja dalam kegiatan bakti sosial tersebut, selain Ketua GAFATAR DPD Lampung, juga Pembina GAFATAR DPD Lampung, Bung Sugiyanto. Kemudian dari tokoh setempat hadir Bapak Komang Adi Swandana (Ketua Forum Pemuda Hindu Pasir Sakti), Putu Swadyana (Pemerintah Kecamatan Pasir Sakti), dan Made Yasa (Parisada Hindu Dharma Pasir Sakti). Para tokoh masyarakat tersebut sangat terharu dan tergugah menyaksikan aksi sosial GAFATAR ini. Dalam sambutannya, Bapak Komang Adi Swadana, mengatakan, “kami sungguh tergugah menyaksikan aksi GAFATAR ini, yang jauh aja bisa, mau bersatu bergotong royong, kenapa yang dekat tidak”, kemudian beliau juga menyampaikan keprihatinannya atas tragedi yang terjadi beberapa waktu kebelakang terkait bentrok bernuansa SARA antara warga etnis Bali dan Lampung, beliau mengatakan, “jangan bangun solidaritas yang sempit, tapi bangunlah solidaritas kebersamaan yang luas, sebagai satu bangsa Nusantara.” Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Made Yasa, bahwa nilai kebersamaan menciptakan suatu keindahan.

 

Apa pun alasannya, pertikaian antar masyarakat yang mengatasnamakan SARA tidak bisa kita terima. Selain merusak tatanan nilai-nilai sosial dan material, hal itu juga sangat bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki setiap suku bangsa di Nusantara ini. Masyarakat Lampung asli sendiri sebenarnya memiliki falsafah hidup "fiil pesenggiri" (perilaku berjiwa besar / bermoral tinggi) dengan salah satu unsurnya adalah ”Nemui-nyimah” (sikap murah hati dan ramah kepada siapa saja), maka tidak beralasan untuk berkeberatan menerima penduduk pendatang. Tetapi dengan seiring waktu falsafah hidup tersebut mulai luntur dikarenakan berbagai macam hal. Niilai-nilai luhur Pancasila serta semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” mulai ditinggalkan. Atas dasar keprihatinan tersebutlah maka GAFATAR lahir.





 
20 April 2014 02:40:19  Ratusan Kader Ramaikan Kirab Kendi Pancasila
15 April 2014 09:52:44  Sumbar Lantik Ketua Baru
13 April 2014 17:00:20  Ketua Umum GAFATAR Kunjungi GAPOKTAN KALTENG
12 April 2014 03:23:27  Panen Jagung di GAFATAR Gorontalo
12 April 2014 12:25:56  Audiensi GAFATAR Ke Kedaton Kesultanan Ternate
12 April 2014 12:25:56  Audiensi GAFATAR Ke Kedaton Kesultanan Ternate
02 April 2014 18:31:36  Meniti Fokus Organisasi